Jumat, 31 Agustus 2018

Asian Games 2018 dan Cita Cita Yang Terhenti


Katanya dulu atlet kurang dihargai.
Kalau mau berpendapat ya itu fakta.
Dulu ada banyak teman-teman SMA yang memiliki bakat di bidang olahraga, mulai dari sepakbola sampai basket. 
Aku sendiri tergila-gila dengan basket sampai bermimpi untuk dapat jadi pemain basket profesional sejak SMP kelas 1.
Kalau perlu jadi atlet timnas.
Dulu aku sampai kaget pas SMA, banyak dari temanku yang sangat hebat di bidang olahraga.
Aku punya 2 teman yang saat itu aku lihat benar benar berbakat dalam hal olahraga yakni basket dan sepakbola.
Bahkan bisa dibilang sudah lumayan profesional di usia masih remaja. 
Sampai suatu ketika saya tanya ke kedus kakak kelas saya ini, Kurnia anak basket dan Ardiansyah.
Saat saya tanya apa kah bidang ini mau dijadikan profesi.
Tidak ada satupun yang mau.
Saya dulu masih ngeyel, ya kalau mau passion ya lakukan aja yang kamu pengen.
Tapi, salah satu kakak kelas saya si Kurnia bilang "la emang kalau kita latihan di klub sampai jadi anggota timnas, ada yang ngejamin kita hidup layak nggak?"
"Kamu lihat deh, atlet-atlet sekarang yang udah tua-tua itu ngapain? Paling banter mereka jadi pelatih," katanya.
"Kalaupun ada yang emang hidup layak, kalau nggak orang tuanya yang udah kaya duluan ya emang dia cari nafkah di bidang lain," kata si Ardiansyah menutup obrolan.
Terus aku diem, hmm ya benar juga sih... 
Aku mikir cukup lama. 
Sampai berhari hari hingga berbulan bulan.
Ak mau lepas mimpi ini atau nggak ya.
Sampai pada akhirnya aku juga mulai berfikir realistis untuk nggak terlalu ngoyo berlatih basket, nggak terlalu ngoyo untuk masuk tim basket, melupakan semua mimpi yang sudah dibangun sejak SMP kelas 1.
Ya realistis.
Pada akhirnya memang semua teman yang kutahu dulu profesional dalam bidang olahraga, sekarang banting setir jadi macam-macam profesi.
Ada yang jadi masinis, guru honorer, pedagang...
Aku sendiri akhirnya jadi reporter. 😁
Nulis kaya gini bikin pengen nangis sih sebenernya. Kalo negara nggak apresiasi apa yang kita perjuangkan ya sama saja bohong.
Saya dan teman-teman merukan satu dari ribuan orang yang mungkin dulu sempat takut untuk menjadi atlet.
Takut bahwa ini akan sia-sia. 
Sampai pada titik kita memutuskan untuk tidak lagi fokus terhadap apa yang kita cintai. 
Yaitu olahraga.

Kalau dengar cerita atlet Asian Games 2018 yang sekarang dapat macam macam hadiah, rasanya senang juga terharu. 
Hebat ya, saya pikir mungkin ini saatnya atlet bisa jadi profesi yang bisa diseriusin.

Kalo bisa aku pengen banget balik ke jaman dulu.
Seret semua temanku untuk ngoyo dengan mimpinya.
Karena sekarang ada yang peduli dengan kehidupan atlet.

Go Atlet Indonesia !!  ❤❤❤


Jumat, 06 Juli 2018

Sephia




Aku pikir setelah bertahun-tahun menghadapi patah hati, aku akan menjadi kebal dengan perasaan menyesakkan tersebut.

Namun, sepertinya hati ini tidak mau berkompromi apapun.

Rasa ini tetap sama, sesak, perih, pilu, kosong dan hampa.

Aku mencaci maki diri setiap hari karena terlalu lemah dalam menekan perasaan bodoh ini.

Sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku hanyalah sephia.

Yang datang ketika kau meminta dan pergi saat kau tak inginkanku lagi.

Aku tak berhak meminta apalagi menuntutmu berpaling kepadaku. 

Melihatmu menatapku dengan perasaan itu membuatku melupakan diriku sendiri.

Sentuhan tanganmu buatku lupa bahwa kau bukan milikku.

Aku tidak mau berbangga diri tapi aku tahu, kamu mencintaiku.

Aku tahu kamu merasa nyaman dengan keberadaanku.

Aku tahu kamu selalu mengkhwatirkanku.

Aku tahu kamu rindu dengan percakapan kita.


Dan kamu tahu? Aku juga rindu pelukan hangatmu.

Hey, kembali lah.. 

Aku tahu kamu membutuhkanku

Karena disini aku masih membuka pintuku untukmu.